Infolinks In Text Ads

Tahapan perkembangan sosialisasi bayi

Berikut ini tahapan perkembangan sosialisasi bayi.

* Usia 0-2 bulan

Siapa pun yang membelai, menggendong, atau memeluknya, ia takkan keberatan asal terasa nyaman. Senyumnya pun masih merupakan refleks, biasanya lantaran ada rangsangan berupa sentuhan.

Pengalaman pertama yang positif tentang adanya hubungan dengan orang lain diperoleh dari sentuhan kulit yang intensif saat menyusu. Soalnya, lewat kulitlah ia pertama kali merasakan ada hubungan dengan lingkungan semisal panas dan dingin. Nah, kehangatan dan kelembutan kulit payudara ibu saat ia menyusu, sungguh memberi pengalaman berarti buatnya.

Menangis merupakan caranya untuk mengungkapkan perasaan dan kebutuhan-kebutuhannya. Bukankah sebelum mampu bicara, bayi berkomunikasi lewat tangisan? Jadi, kita harus peka dan tanggap tiap kali ia menangis, apa gerangan yang ia rasakan atau butuhkan. Untuk itu, perlu mempelajari arti tangisannya.

* Usia 2-3 bulan

Si kecil mulai bisa membedakan antara manusia dengan benda. Ia memahami, manusialah yang dapat memenuhi kebutuhannya. Hingga, ia merasa puas bila bersama seseorang. Sebaliknya, jika ditinggalkan sendirian, ia merasa tak nyaman. Namun di usia ini ia belum menunjukkan kecenderungan terhadap satu orang tertentu saja, melainkan masih menerima setiap orang.

Seiring dengan itu, kita bisa melihat senyum sosial (senyum pergaulan) pertamanya. Sejak itu, ia “rajin” berespon tersenyum tiap melihat wajah orang yang tengah mendekatinya atau mengajaknya ngobrol dan bermain. Dengan kata lain, ia mulai berinteraksi. Apalagi ia juga mulai mengeluarkan suara-suara semisal “a-a-a” yang merupakan perkembangan bicara. Bukankah untuk bisa bergaul butuh keterampilan bicara?

* Usia 4-5 bulan

Ia mulai ingin digendong oleh seseorang yang mendekatinya. Antara lain dengan mengulurkan tangan kala didekati. Ia pun dapat membedakan wajah dingin dengan wajah tersenyum, maupun membedakan suara yang bersahabat dengan yang bernada marah.

Jika bertemu dengan sesama bayi atau anak lain yang lebih besar, ia akan mencoba menarik perhatian dengan cara melompat-lompat, menendang-nendang, tertawa, atau meniup-niup gelembung udara dengan bibirnya.

Kini ia bukan hanya bisa senyum, juga tertawa. Malah selepas usia 4 bulan, ia bisa tertawa gelak, terlebih kala kita menggodanya.

* Usia 6-7 bulan

Di usia ini ia mulai membedakan antara orang yang dikenal dengan orang yang masih asing baginya. Bila bertemu orang yang dikenal, ia pasti tersenyum. Namun bila ketemu orang yang masih asing, ia langsung menunjukan rasa khawatir atau takut. Sementara bila bertemu bayi lain, ia akan tersenyum dan memberi perhatian bila ada yang menangis. Ia pun mulai belajar mengenal rasa malu pada orang lain.

Kemampuan bicaranya juga makin berkembang, ia mulai merangkaikan suku kata seperti “da-da-da” alias mengoceh. Sering-seringlah mengajaknya bicara, karena mengoceh merupakan dasar dari kemampuannya berbicara.

Usia ini sekaligus juga merupakan awal dari masa kelekatan antara bayi dengan ibu atau orang yang mengasuhnya. Kita tahu, betapa penting kelekatan supaya si kecil percaya pada lingkungan.

* Usia 9-12 bulan

Si kecil mulai menunjukkan rasa ingin tahu terhadap pakaian atau rambut bayi lain, mencoba meniru tingkah laku dan bunyi yang dibuat bayi lain, serta menunjukan minat yang sama pada satu hal semisal mainan. Meski, bila salah satu merebutnya, ia merasa terganggu dan menangis.

Ia pun mulai mengamati apa yang dikerjakan orang-orang di sekitarnya. Bahkan, ia juga mengerti aturan yang ditetapkan orang dewasa seperti “jangan” atau “enggak boleh”. Tentu kemampuan bicaranya pun makin bertambah.

0 comments:

Poskan Komentar