Infolinks In Text Ads

Teori penyebab neoplasma ganas

Teori mutasi somatik
Kelainan dalam gen timbul akibat perubahan mutasi, yang mungkin di induksi oleh zat karsinogenik, dan adanya faktor herediter. Ada bukti bahwa orang dengan kelainan kromosom tertentu mudah terkena neoplasma tertentu. Misalnya kasus leukemia lebih sering pada orang dengan trisomi, khususnya trisomi 21. Retinoblastoma banyak terdapat pada orang dengan sindrom delesi-D (pada sebagian kromosom 13). Orang dengan leukemia mielositik menahun memiliki kromosom Philadelphia (translokasi kromosom 22) sampai lebih dari 90%.

Teori diferensiasi aberans atau epigenetik
Kelainan timbul akibat adanya gangguan pengaturan dari gen normal. Insidens neoplasma maligna meningkat selama masa pertumbuhan dan perkembangan. Kista dermoid, hamartoma, dan teratoma adalah neoplasma yang timbul akibat adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan embrional.

Teori virus
Virus disebut sebagai kemungkinan penyebab neoplasma ganas pada manusia. Mereka disebut virus onkogenik. Ada bukti yang menunjukkan bahwa virus mengubah genom sel yang terinfeksi, yang kemudian mengubah turunan dari selnya. Dua virus onkogenik adalah virus DNA dan virus RNA.

Teori seleksi sel
Menurut teori ini, neoplasma berkembang tahap demi tahap, melalui proses mutasi. Proses ini dapat berhenti dan reversibel (bila stimulusnya tak ada lagi). Imunodefisiensi meningkatkan risiko pertumbuhan neoplastik.

Karsinogen
Substansi yang dapat menginduksi pertumbuhan neoplastik. Ada dua golongan karsinogen: kimiawi dan fisis.

Karsinogen kimiawi meliputi hidrokarbon aromatik polisiklik, amine aromatik, agens pengkelat (alkilasi), nitrosamin, senyawa nitroso lain. Hidrokarbon aromatik polisiklik termasuk karsinogen yang paling kuat. Hidrokarbon ini terdapat dalam asap rokok, dan asap mobil. Dapat menyebabkan karsinoma bibir, lidah, rongga mulut, kepala, leher, larings, paru, kandung kemih. Amine aromatik termasuk karsinogen yang cukup penting. Amine aromatik terdapat pada makanan tertentu, naftalen (kamper), dan insektisida tertentu. Zat ini dapat menyebabkan karsinoma kandung kemih. Sedangkan obat-obatan yang bersifat karsinogenik: griseofulvin (anti jamur), metronidazol (anti protozoa), asbes, kadmium, kromium, nikel, yang dapat menyebabkan karsinoma paru dan prostat.

Karsinogen fisis meliputi radiasi yang dapat menyebabkan karsinoma payudara, tiroid, dan leukemia dan sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan karsinoma kulit.

Faktor lain dalam karsinogenesis

Kebiasaan hidup dan budaya
Karsinoma lambung lebih banyak terjadi di Jepang daripada di Amerika Serikat. Sedangkan karsinoma usus, payudara, prostat terjadi lebih sedikit di Jepang daripada di Amerika Serikat. Namun setelah orang Jepang tinggal di Amerika, perbedaan ini hilang!

Diet
Kebiasaan diet rendah serat dapat menimbulkan karsinoma kolon dan mengkonsumsi makanan yang diawetkan dapat mencetuskan karsinoma lambung.

Kehidupan seks
Karsinoma serviks lebih sering terjadi pada wanita yang sudah mengadakan hubungan seks sejak muda, apalagi berganti-ganti pasangan. Karsinoma payudara lebih sering pada wanita yang tidak mempunyai anak, yang lebih muda pada saat mendapat menstruasi pertama, atau menopause terlambat.

Kebiasaan
Kebiasaan minum alkohol dapat mencetuskan karsinoma esofagus. Kebiasaan merokok mencetuskan terjadinya karsinoma paru; 9-10 batang/hari mempunyai kemungkinan 4x lebih besar dan >20 batang/hari mempunyai kemungkinan 10x lebih besar.

Hormon
Bila kadar hormon tertentu meningkat selama waktu lama dapat mencetuskan karsinoma payudara, endometrium, vagina, prostat, atau tiroid.

Metastasis
Metastasis adalah kemampuan neoplasma maligna untuk menyebar jauh. Ada lima tahap dalam proses metastasis: invasi, pemisahan sel, diseminasi, penetapan awal dan proliferasi.

Invasi
Untuk menginvasi sel normal di dekatnya, sel-sel maligna tumbuh ke luar dari lokasi asalnya ke area sekitarnya. Untuk menginfiltrasi rongga tubuh atau pembuluh darah, sel-sel maligna harus menembus membran sel dasar.

Pemisahan sel
Setelah menginvasi jaringan di dekatnya, rongga tubuh, dan pembuluh darah, sel-sel maligna memisahkan diri dari neoplasma primer dan menembus pembuluh limfatik atau pembuluh darah. Sel-sel tumor kurang memiliki sifat perlekatan normal dan dapat dengan mudah terlepas ke dalam jaringan sekitar, darah, dan limfe.

Diseminasi
Rute paling sering di mana sel maligna mencapai sisi paling jauh dari neoplasma primer adalah melalui pembuluh darah dan limfatik. Sel maligna bergerak dari pembuluh limfatik ke pembuluh darah dan sebaliknya. Neoplasma maligna yang cuma beberapa gram dapat menyebarkan beberapa juta ke dalam sirkulasi setiap hari. Untuk bertahan hidup dalam sistem sirkulasi dan untuk mempengaruhi penetapan awal pada endotelium, sel-sel maligna menjalani berbagai interaksi selular yang melibatkan imunitas dan perlekatan.

Penetapan awal dan proliferasi
Setelah terperangkap dalam pembuluh darah keci arteri atau vena, rumpunan aberans dari sel-sel maligna harus menembus melalui pembuluh darah ke dalam ruang interstisial untuk terus bertumbuh. Ruang bebas sel pada lapisan endotel kapiler tampaknya dimasukan oleh sel-sel maligna, suatu proses yang melibatkan perubahan perlekatan selular dan sebagai akibatnya retraksi sel-sel endotel. Lingkungan kondusif baru untuk pertumbuhan selular harus tercipta setelah sel-sel maligna memasuki ruang interstisial. Kapiler-kapiler baru tumbuh dan akhirnya menembus sel-sel maligna, yang menciptakan suplai darah di mana sel maligna mendapatkan nutrisi dan memungkinkan produk sisanya dibuang. Pembentukan dan proliferasi sel-sel ini juga bergantung pada imunologis dan sifat membran sel luar. Sel maligna ini menyesuaikan lingkungannya untuk pertumbuhan selanjutnya.

Manifestasi klinis neoplasma
Pada tahap awal perkembangan, neoplasma benigna dan maligna adalah asimtomatik. Massa sel secara sederhana tidak cukup besar untuk mempengaruhi fungsi tubuh mana pun. Sesuai dengan peningkatan ukuran tumor, terjadi perubahan lokal pada fungsi. Saat neoplasma maligna bertumbuh dan bermetastasis, neoplasma ini mempengaruhi fungsi tempat yang jauh dan mengganggu keseimbangan biokimia dan nutrisi tubuh.

Manifestasi lokal
Sifat dan perkembangan simtomatologi lokal bergantung pada lokasi neoplasma dan ukuran serta kemampuannya memenuhi ruangan yang dikenainya. Misalnya neoplasma dalam rongga abdomen dapat tumbuh cukup besar tanpa memberi gejala. Tetapi neoplasma di atap tengkorak, biar pun baru sebesar kacang, sudah dapat memberi gejala nyata. Massa tumor primer atau metastasis membesar dan menekan jaringan sekitar maupun pendarahannya. Gejala yang timbul bisa akibat gangguan fungsi, gangguan pendarahan atau akibat respons imun.

Gangguan fungsi bergantung pada organ yang terkait. Karsinoma paru yang menyumbat bronkus dapat berakibat atelektasis, pembentukan abses, bronkiektasis, atau pneumonitis bagian distal. Dan individu yang mengalami ini akan batuk, dengan tanda-tanda infeksi. Karsinoma kolon dapat menghambat defekasi. Jika sumbatan tidak sempurna, maka dapat timbul konstipasi, dan kolik. Gangguan pendarahan menghambat oksigenasi dan pasokan nutrien, berakibat iskemia dan nekrosis. Produk limbah tidak dikeluarkan, dan asam laktat tertimbun.

Manifestasi sistemik
Neoplasma mempunyai efek sistemik seperti juga lokal. Gejala sistemik mungkin indikasi pertama bahwa seseorang menderita neoplasma atau dapat menyertai penyakit metastasis yang lebih lanjut. Gejala ini (sindrom paraneoplastik) meliputi 75% kasus: mual dan anoreksia, berat badan turun, letih, lesu, anemia, dan infeksi.

0 comments:

Poskan Komentar