Infolinks In Text Ads

Tips Cara Menangani Diri Akibat Depresi Pasca Melahirkan

Berkeringat dingin. sesak napas. gangguan sulit tidur atau tidur tidak nyenyak. gelisah, tegang, bingung, terasing, mudah tersinggung, merasakan kesedihan yang mendalam, sering menangis, jengkel, sakit hati, marah, merasa bersalah, merasa tidak berharga, kehilangan minat terhadap bayi dan kehilangan minat terhadap kegiatan rutin sehari-hari.

Jika Anda atau istri Anda merasakan gejala-gejala tersebut usai melahirkan, mungkin Anda atau istri Anda terserang depresi pasca-melahirkan (DPM) alias postpartum depression atau post-natal depression. Istilah kerennya baby blues. atau lengkapnya baby blues syndrome. Satan baby blues, literatur asing menyebut munculnya gejala-gejala tersebut dengan beberapa istilah. yakni post-pattum syndrome. postpartum depression. post-natal depression.

Walaupun demikian, ada juga para ahli yang secara tegas membedakan antara baby blues, yang juga mereka sebut poslpanum syndrome, dengan DPM. Jika gejala-gejala tersebut muncul sesaat atau satu hingga dua hari setelah melahirkan, itulah baby blues alias post-partum syndrome. Namun bila gejala tersebut terus berkelanjutan hingga berbulan-bulan, disebut DPM.

Ada sebagian ahli lainnya yang membedakan baby blues dengan DPM berdasarkan berat-ringannya gejala. Dikatakan bahwa baby blues hanyalah DPM ringan. dan katanya sebagian besar (sekitar 80 persen) wanita yang melahirkan mengalaminya. Gejala baby blues sama dengan gejala-gejala DPM, tapi intensitasnya lebih ringan dan rentang waktunya lebih pendek, paling lama enam minggu. Berbeda dari pengidap DPM yang terus-menerus depresi, penderita baby blues akan bisa tidur nyenyak jika perawatan alas bayinya diambil alih oleh orang lain. Hal ini tidak terjadi pada penderita DPM.

Namun gejala depresi berat ataupun ringan pada penderita DPM dan baby blues sesungguhnya tidak mudah dibedakan. karena sangat kualitatif dan menyangkut perasaan yang subjektif. Karena itu. sebagian besar ahli tidak membedakan antara pengertian DPM dan baby blues. Baby blues dipandang sebagai nama popular untuk DPM yang lebih dikenal luas oleh masyarakat.

DPM biasanya berlangsung sejak 24 jam atau empat hingga lima hari usai melahirkan hingga beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan. bahkan bisa hingga delapan bulan kemudian. Diperkirakan 10-20 persen wanita AS menderita DPM. sedangkan di Indonesia belum ada data yang terkumpul. Munculnya gangguan ini didorong oleh terjadinya reaksi hormonal serta kimiawi dalam tubuh. dan karena faktor lingkungan. Namun apakah kondisi alami tubuh dan lingkungan ini akan memicu DPM, sangat bergantung pada kematangan jiwa si ibu.

Selama hamil dan ketika melahirkan terjadi perubahan hormonal. Hormon estrogen yang mengontrol suasana hati (mood) dan kesadaran selama hamil, meningkat. Hal serupa terjadi juga pada hormon endorfin, yang berperan memompa munculnya perasaan senang dan bahagia. Demikian pula dengan kadar hormon laktogen dan prolaktin. yang meningkat ketika seorang wanita mengandung. Secara alami laktogen dan prolaktin diperlukan tubuh untuk merangsang payudara agar menghasilkan air susu.

Ketika tiba saatnya melahirkan. hormon kortisol yang mengontrol kadar gula darah dan tekanan darah justru menurun. sampai serendah kadar kortisol pengidap depresi. Menurunnya kadar endorfin, yang memberikan perasaan senang dan bahagia ketika melahirkan, juga mengundang risiko depresi. Jika pada saat itu kadar hormon progresteron dan estradiol juga rendah, maka akan timbul keletihan yang bisa memperparah DPM.

Secara psikologis. semua perhatian tercurah pada ibu hamil. Termasuk memenuhi keinginan aneh ibu yang sering diatas namakan janin dalam kandungan dalam bentuk ngidam. Bahkan. tak jarang setelah tujuh bulan usia kehamilan. diadakan upacara “Tujuh Bulanan” agar ibu dan bayinya selamat ketika tiba saat kelahiran bayi. Namun begitu si ibu melahirkan, curahan perhatian berpindah pada si bayi. Si ibu seolah terabaikan. Padahal. si ibu yang sakit dan kelelahan usai melahirkan lebih membutuhkan perhatian.

Secara fisik. kegiatan mengasuh bayi -dari menyusui, mengganti popok. memandikan. menimang—terjadi sepanjang hari bahkan di tengah malam. Semua kegiatan ini sangat menguras tenaga ibu. belum lagi jika si ibu masih harus mengurusi juga pekerjaan rumah tangga. Nah. perhatian yang teralihkan dari si ibu ke bayinya ini bisa memancing munculnya DPM.

Lepas dari segala faktor tersebut. dalam hasil riset disebutkan bahwa DPM umumnya diderita oleh wanita yang berkepribadian tidak mandiri dan kebanyakan melanda wanita pada pasca melahirkan anak pertama. DPM pada pasca melahirkan anak pertama bertumpuk sejak masa kehamilan. akibat kekhawatiran berlebihan alas kemampuan diri sendiri untuk merawat bayi. DPM di Indonesia diperkirakan lebih banyak diderita wanita perkotaan daripada yang di perdesaan. Hal ini mungkin disebabkan budaya saling membantu yang masih lekat di desa sehingga mampu meredam kecemasan ketika menunggu kelahiran.

12 Gejala Depresi Pasca Melahirkan
1. Merasakan ketidak bahagiaan berkepanjangan.
2. Tidak mampu berpikir jernih dan sulit berkonsentrasi.
3. Tidak bersemangat, daya ingat merosot.
4. Merasa tidak berguna atau merasa bersalah.
5. Merasa putus asa sampai muncul perasaan ingin bunuh diri.
6. Mengalami gangguan pola tidur, sulit tidur atau malah terlalu banyak tidur.
7. Mengalami gangguan pola makan: tidak ada nafsu makan atau malah sangat bernafsu makan.
8. Merasa ketakutan dan mudah tersinggung.
9. Mudah lelah meskipun tidak banyak bekerja.
10. Menurunnya kemesraan terhadap pasangan bahkan tidak bernafsu melakukan hubungan seksual.
11. Gelisah, panik, jantung berdebar-debar.
12. Lebih suka mengurung diri di kamar atau rumah, menghindari kontak dengan orang lain.

Cara Menghindari Depresi Pasca Melahirkan
1. Pahami kebutuhan istri. Suami seyogianya memahami bahwa yang paling dibutuhkan istri pasca melahirkan adalah istirahat, istirahat. dan istirahat. Lebih banyak istirahat sepanjang minggu-minggu penama pasca melahirkan akan menjauhkan wanita dari risiko DPM.

2. Jika suami tidak bisa terlibat terlalu banyak dalam urusan perawatan bayi karena berbagai alasan, sebaiknya sediakan seseorang yang bisa membantu tugas merawat bayi. Setidaknya hingga 35 hari pasca melahirkan (selapanan).

3. Kesediaan suami mengambil alih sebagian tugas-tugas rumah tangga yang selama ini dilakukan istri, akan sangat menolong. Misalnya mencuci piring, mempersiapkan sarapan, menyapu dan membersihkan rumah, mempersiapkan air hangat untuk mandi bagi istri maupun bayi.

4. Kewajiban suami membagi perhatian secara adil kepada bayi dan ibunya. Meskipun kehadiran bayi sangat menyenangkan dan membahagiakan, ingatlah ibu yang melahirkannya, perhatikan istri Anda. Menelepon istri jika suami ada di luar kota. akan membuatnya sangat berarti. Atau, memberinya kecupan dan mengucapkan kata-kata sayang sebelum Anda berangkat bekerja.

5. Perlunya sentuhan fisik sangat dirasakan pada masa-masa pasca melahirkan. Menyisir rambut istri, memeluknya, atau mengelus-etus punggungnya akan membuatnya merasa nyaman dan meredakan rasa lelahnya. Lebih dari itu, istri akan merasa diperhatikan dan tidak sekadar dianggap sebagai mesin penghasil anak belaka.

6. Istri juga berusaha memperingan beban pikirannya sendiri dengan cara menurunkan target. Misalnya dengan mengurangi standar kebersihan rumah. Jika biasanya lantai rumah harus disapu dan dipel setiap hari, kali ini cukup dua hari sekali. Lain halnya jika memang ada pembantu yang mengerjakannya.

7. Istri hendaknya mengambil inisiatif dengan melakukan senam nifas dan mengkonsumsi makanan sehat, mungkin juga dengan minum jejamuan. guna mempercepat pemulihan kesehatannya.

8. Mendekam sepanjang hari di rumah usai melahirkan bisa sangat menyiksa dan mudah memicu stres. Untuk itu, suami bisa mengajak istri berekreasi sekadar untuk meninggalkan rumah dan berganti suasana. Misalnya jalan pagi keliling kompleks permukiman bersama istri dan bayinya. atau belanja ke pasar swalayan.

9. Bila memungkinkan, seyogianya keluarga besar, misalnya ibu kandung atau ibu mertua, dilibatkan dalam menangani si bayi dan mendampingi si ibu yang baru saja melahirkan.

Makanan yang meningkatkan risiko DPM
Oksigen larut delapan kali lebih cepat di dalam lemak daripada dalam air. Bila terpapar oksigen. lemak akan menjadi teroksidasi dan menghasilkan radikal babas. Namun oksigen ternyata lebih suka pada jenis lemak tertentu. terutama lemak tak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acid). karena ikatan kimiawinya sangat longgar.

Minyak jagung, minyak bunga matahari, dan minyak kacang tanah termasuk lemak tak jenuh jamak. Minyak, minyak tersebut lebih cepat mengalami kerusakan jika didiamkan begitu saja di udara terbuka dan tidak ditempatkan dalam wadah tertutup rapat. Belum lagi jika minyak dimantaatkan untuk menggoreng dan terpapar suhu penggorengan yang panasnya bisa mencapai 200 ‘C.

Jika minyak goreng yang mengalami kerusakan ini dikonsumsi, radikal bebasnya akan membanjiri tubuh dan merambah hingga ke otak. Kondisi ini dapat mengacaukan komunikasi antar sel saraf dalam otak. sehingga menimbulkan perasaan tak menentu, seperti kegelisahan, kebosanan. muncul keinginan marah tanpa tahu penyebabnya. Akibat yang sama bisa muncul juga jika kita getol menyantap lemak trans dan kolesterol, seperti margarin, biskult, crackers, minyak samin, gajih, daging ayam berlemak, keripik kulit ayam.

Kadar homosistein darah yang tinggi juga dapat mengacaukan suasana hati dan kejernihan pikiran. Dengan mengamati hasil pemeriksaan kadar homosistein, dapat dideteksi apakah seseorang sedang depresi atau mengalami kemerosotan fungsi otak, yang meliputi penurunan daya ingat, konsentrasi, kemampuan berpikir. Lemak-lemak jahat khususnya sumber lemak trans seperti margarin dan hasil olahan menggunakan margarin, merupakan pencetus meningkatnya kadar homosistein.

Gula, permen, dan makanan-minuman manis akan memancing membanjirnya kadar gula darah. Hal ini bisa terjadi secara mendadak, karena gula dan produk olahannya (sepeni permen) mudah sekali diuraikan dan diserap tubuh. Namun kenaikan kadar gula darah secara mendadak ini menimbulkan “efek yo-yo”. yakni kenaikan seketika yang segera berganti dengan kemerosotan tiba-tiba pula. Hal ini mengganggu kerja zat kimiawi penghantar pesan dalam otak kita, yang akan menimbulkan kegelisahan. Karena itu, gula berlebihan serta makanan-minuman manis hendaknya dibatasi selama dan pasca melahirkan.

Makanan Yang Mengandung Gizi anti DPM
Para peneliti menemukan bahwa munculnya sikap apatis ibu penderita DPM terhadap bayinya antara lain disebabkan rendahnya asupan asam amino tirosin selama hamil. Asupan tirosin akan menghambat zat-zat pembangkit stres mencapai otak. Tirosin juga diperlukan untuk menggiatkan kerja kelenjar adrenal menghasilkan hormon adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin), yang menimbulkan perasaan nyaman dan membantu menyingkirkan stres. Namun agar tirosin dapat dimanfaatkan secara optimal, tubuh memerlukan tambahan asam folat, vitamin B3, vitamin C, dan mineral tembaga.

Sangat membatasi makanan sumber karbohidrat kompleks, seperti nasi beras merah, selama hamil karena takut kegemukan, turut meningkatkan risiko DPM. Keterbatasan asupan karbohidrat kompleks akan menyusutkan produksi triptofan dan serotonin. yang akan memancing risiko depresi. Gara-gara kadar serotonin yang rendah ini, terjadi ketagihan gula dan makanan-minuman manis. Akibatnya. kadar serotonin akan melonjak secara cepat, tapi kemudian anjlok lagi dengan tiba-tiba. Nah, kondisi ini justru membuat suasana hati tidak nyaman.

Konsentrasi vitamin 6 kompleks dalam darah cukup berperanan terhadap munculnya DPM. Sepertiga dan penderita DPM di AS diketahui memiliki kadar asam folat (folasin) dan juga vitamin B1 yang rendah dalam darahnya. Dalam sebuah penelitian, kepada sekelompok penderita DPM diberikan tablet suplemen asam folat sedangkan pada separuhnya hanya diberikan tablet plasebo (tanpa kandungan asam folat). Hasilnya. penderita DPM yang mendapatkan suplemen mengaku suasana hatinya (mood) lebih baik dan tidak merasakan emosi negatif lagi. Sementara yang mendapatkan plasebo mengaku tidak mengalami perubahan perilaku.

Mengkonsumsi pil KB dalam tempo lama sebelum kehamilan dapat menguras kadar vitamin B2 (riboflavin) dalam darah. Apalagi jika konsumsi makanan kaya vitamin B-kompleks selama hamil, terbatas. Konsentrasi vitamin B2 yang terbatas memudahkan munculnya stres dan depresi, termasuk DPM, Yang paling perlu dipertimbangkan bagi para ibu usai melahirkan adalah mencukupi konsumsi makanan sumber vitamin B-kompleks. Sebab. defisiensi vitamin B-kompleks berdampak langsung terhadap munculnya gejala-gejala depresi.

0 comments:

Poskan Komentar