Infolinks In Text Ads

Konsep Oral Hygiene

Konsep Oral Hygiene
1   Pengertian
Oral hygiene (kebersihan mulut) adalah melaksanakan kebersihan rongga mulut, lidah dari semua kotoran / sisa makanan dengan menggunakan kain kasa atau kapas yang dibasahi dengan air bersih (Eni Kusyati, 2006).
Oral hygiene (kebersihan mulut) merupakan salah satu upaya untuk mencegah timbulnya berbagai masalah dimulut serta untuk menghindari pertumbuhan bakteri dan jamur dimulut (Ngastiyah, 1997).
Oral hygiene merupakan tindakan untuk membersihkan dan menyegarkan mulut, gigi dan gusi (Clark, 2005).

Prosedur untuk melakukan oral hygiene atau cara untuk menghindari pertumbuhan bakteri dan jamur, dapat dilakukan perawatan pada mulut bayi dengan cara sebagai berikut :
1.      Setiap bayi selesai minum susu, berikan 1 -2 sendok teh air matang untuk membilas sisa susu tersebut.
2.      Sisa susu yang berupa lapisan endapan putih tebal pada lidah bayi ini dapat dibersihkan dengan kapas lidi yang dibasahi dengan air hangat (Nursalam dkk, 2005).

Tujuan dilakukan oral hygiene (kebersihan mulut) adalah sebagai berikut:
1.      Agar mulut tetap bersih / tidak berbau
2.      Mencegah infeksi mulut, bibir dan lidah pecah – pecah, stomatitis
3.      Membantu merangsang nafsu makan
4.      Meningkatkan daya tahan tubuh
5.      Melaksanakan kebersihan perorangan
6.      Merupakan suatu usaha pengobatan

2   Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Oral Hygiene
Menurut Perry dan Potter, (2005) factor yang mempengaruhi personal hygiene, adalah :
a.       Status social-ekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik kebersihan yang digunakan. Hal ini berpengaruh terhadap kemampuan klien menyediakan bahan-bahan yang penting seperti pasta gigi.
b.      Praktik social
Kelompok-kelompok sosial wadah seseorang berhubungan dapat mempengaruhi praktek higiene pribadi. Selama masa kanak-kanak, anak-anak mendapatkan praktik oral hygiene dari orang tua mereka.
c.       Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang dapat membuat orang enggan memenuhi kebutuhan hygiene pribadi. Pengetahuan tentang pentingnya oral hygiene dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik oral hygiene. Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup. Klien juga harus termotivasi untuk melakukan oral hygiene.
d.      Status kesehatan
Klien paralisis atau memiliki restriksi fisik pada pada tangan mengalami penurunan kekuatan tangan atau ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan hygiene mulut (Phipp, 1995).
e.       Cacat jasmani/mental bawaan.
Kondisi cacat dan gangguan mental menghambat kemampuan individu untuk melakukan perawatan diri secara mandiri.

3   Akibat Tidak Dilakukannya Oral Higyene
a.        Masalah umum
1)   Karries gigi
Karries gigi merupakan masalah umum pada orang muda, perkembangan lubang merupakan proses patologi yang mellibatkan kerusakan email gigi dikarenakan kekurangan kalsium.
2)    Penyakit periodontal
Adalah penyakit jaringan sekitar gigi, seperti peradangan membran periodontal.
3)   Plak
Adalah transparan dan melekat pada gigi, khususnya dekat dasar
kepala gigi pada margin gusi.
4)   Halitosis
Merupakan bau napas, hal ini merupakan masalah umum rongga mulut akibat hygiene mulut yang buruk, makanan tertentu atau proses infeksi. Hygiene mulut yang tepat dapat mengeliminasi bau kecuali penyebabnya adalah kondisi sistemik seperti penyakit liver atau diabetes.
5)   Keilosis
Merupakan gangguan bibir retak, terutama pada sudut mulut. Defisiensi vitamin, nafas mulut, dan salivasi yang berlebihan dapat menyebabkan keilosis.

b.  Masalah mulut lain
 1)  Stomatitis
 Kondisi peradangan pada mulut karena kontak dengan pengiritasi, defisiensi vitamin, infeksi oleh bakteri, virus atau jamur atau penggunaan obat kemoterapi.
 2)  Glosisitis
Peradangan lidah hasil karena infeksi atau cidera, seperti luka bakar atau gigitan.
3)  Gingivitis
Peradangan gusi biasanya akibat hygiene mulut yang buruk, defisiensi vitamin, atau diabetes mellitus. Perawatan mulut khusus merupakan keharusan apabila klien memiliki masalah oral ini. Perubahan mukosa mulut yang berhubungan dengan mudah mengarah kepada malnutrisi.

4  Hubungan Oral Hygiene Dengan Stomatitis
 Mulut merupakan rongga yang tidak bersih dan penuh dengan bakteri oleh sebab itu harus selalu dibersihkan (Wahit Iqbal, 2008). Oral hygiene (kebersihan mulut) merupakan salah satu upaya untuk mencegah timbulnya berbagai masalah dimulut serta untuk menghindari pertumbuhan bakteri dan jamur di mulut. Adanya sisa susu atau ASI dalam mulut bayi setelah minum juga dapat menyebabkan masalah serta berkembangbiaknya bakteri dan jamur (Ngastiyah, 2005).
Masalah mulut yang sering terjadi pada bayi adalah stomatitis (oral trush) dimana oral trush itu disebabkan oleh candida albican yang bersifat saprofit yang dapat berkembang biak dengan memperbanyak diri dengan spora yang tumbuh dari tunas dan lebih mudah mengadakan invasi dan memasuki  jaringan terutama pada sudut mulut (Siregar, 2004).
Untuk itu kebersihan mulut pada bayi perlu dijaga karena untuk menjaga infeksi berulang / stomatitis berulang yaitu dengan cara melakukan oral hygiene pada bayi

0 comments:

Poskan Komentar