Setiap ada kasus gigitan hewan penular rabies harus ditangani dengan cepat dan sesegera mungkin. Untuk mengurangi/mematikan virus rabies yang masuk pada luka gigitan, usaha yg efektif adalah mencuci luka gigitan dengan air mengalir dan sabun atau dengan detergent selama 10-15 menit, kemudian diberi antiseptic (alkohol 70%,betadine dll)
Meskipun pencucian luka menurut keterangan penderita sudah dilakukan sebelumnya.
Luka gigitan tidak dibenarkan untuk dijahit,kecuali jahitan situasi. Bila memang perlu sekali dijahit (jahitan situasi), maka diberikan serum anti rabies (SAR) sesuai dengan dosis, yg disuntikan secara infiltrasi disekitar luka sebanyak mungkin dan sisanya disuntikan secara intra musculer. Disamping itu harus dipertimbangkan pula perlu tidaknya pemberian serum/vaksin anti tetanus, antibiotik untuk mencegah infeksi dan pemberian analgetik.
Infolinks In Text Ads
den ger
Penyakit anjing gila atau dikenal dengan nama rabies merupakan suatu penyakit infeksi akut (bersifat zoonosis) pada susunan saraf pusat yg disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini dapat ditularkan ke manusia melalui gigitan binatang al: anjing,kucing,kera,kalelawar.
Kasus rabies di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Esser pada tahun 1884 pada seekor kerbau, kemudian oleh Pening tahun 1889 pada seekor anjing dan oleh Eileris de Zhaan pada tahun 1894 ditemukan pada manusia. Semua kaus ini terjadi di propinsi Jawa Barat dan setelah itu rabies terus menyebar ke daerah indonesia lainnya.
PATOGENESIS
Setelah virus rabies masuk melalui luka gigitan, maka selama 2 minggu virus tetap tinggal pada tempat masuk dan didekatnya, kemudian bergerak mencapai ujung-ujung serabut saraf posterior tanpa menunjukan perubahan-perubahan fungsinya. Masa inkubasi bervariasi anatar 2 minggu sampai 2 tahun, tetapi pada umumnya 3-8 minggu., tergantung jarak gigitan dengan otak. Sesampainya di otak virus kemudian memperbanyak diri dan menyebar luas dalam semua bagian neuron, terutama mempunyai prediksi khusus terhadap sel-sel limbik, hipothalamus dan batang otak.
Setelah memperbanyak diri dalam neuron-neuron sentral,virus berjalan ke arah perifer dalam serabut saraf eferent dan pada saraf volunter maupun saraf otonom. Dengan demikian virus ini menyerang hampir tiap organ dan jaringan di dalam tubuh, dan berkembang biak dalam jaringan-jaringan, seperti kelenjar ludah,ginjal dan sebagainya.
GEJALA KLINIS
- Stadium Prodormal. Gejala-gejala awal berupa demam.malaise,mual dan rasa nyeri di tenggorokan selama beberapa hari.
- Stadium Sensoris. . Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka. Kemudian disusul dengan gejala cemas, dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsangan sensorik.
- Stadium Eksitasi.
- Stadium Paralisis . Sebahagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi.Kadang -kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis otot-otot yg bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang, yg memperlihatkan gejala paralisis otot-otot pernafasan.
Langganan:
Postingan (Atom)