Infolinks In Text Ads

PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN HEMOTHORAX

PENATALAKSANAAN HEMOTHORAX
1. Definisi
BATASAN :
Adanya darah di dalam rongga pleura.

PATOFISIOLOGI dan ETIOLOGI:
1. Trauma tajam ataupun tumpul.
Hal ini bisa terjadi apabila trauma tumpul dapat menimbulkan fraktur tulang iga, sehingga terjadi robekan pembuluh darah interkostalis dan juga menimbulkan robekan pada jaringan paru.
2. Robekan aneurisma aorta.
3. Komplikasi karena pemberian obat antikoagulansia pada infark paru.
4. Pada penderita dengan kelainan “haemorrhagic diathesis”.
5. Komplikasi pada operasi thoraks.


GEJALA KLINIS
Gejala dan keluhan hemothorax tergantung dari berat ringannya trauma. Penderita bisa mengeluh sesak napas, nyeri dada dan sampai shock serta anemia.
DIAGNOSA
1. Anamnesa
2. Pemeriksaan fisik
3. X foto thorax
4. Laboratorium


1. Adanya riwayat trauma pada dada, atau sehabis tindakan pembedahan.
2. Didapatkan tanda-tanda seperti pada efusi pleura.
  • Pada hemithorax yang sakit pergerakan berkurang.
  • Perkusi pada hemithorax yang sakit terdengar redup dan pada auskultasi, suara napas terdengar berkurang atau menghilang sama sekali.
3. Gambaran radiologis seperti pada efusi pleura.
4. Setelah dilakukan aspirasi percobaan, maka cairan tersebut dilakukan pemeriksaan sebagai berikut :
  • Apabila jumlah eritrosit 5 – 6000 / mm3 -----> “a rosy tint”
  • Apabila jumlah eritrosit > 10.000 / mm3 ------> “serosanguinous”.
  • Hal ini didapatkan pada efusi pleura hemoragis.
  • Apabila cairan hemoragis yang berasal dari komplikasi thorakosintesis, cairan tersebut disentrifus dan supernatannya menjadi jernih. Sebaliknya pada hemothorax supernatannya tetap merah.
  • Dikatakan hemothorax bila kadar Hb darah yang berasal dari rongga pleura > 1 g/dl atau apabila kadar Hb yang berasal dari darah hemothorax separuh dari harga Hb darah perifer.


Prosedur
PENATALAKSANAAN
Kematian penderita hemothorax dapat disebabkan karena banyaknya darah yang hilang dan terjadinya kegagalan pernapasan.
Kegagalan pernapasan disebabkan adanya sejumlah besar darah dalam rongga pleura menekan jaringan paru serta berkurangnya jaringan paru yang melakukan ventilasi.
Maka pengobatan hemothorax sebagai berikut :
  1. Pengosongan rongga pleura dari darah.
  2. Menghentikan perdarahan.
  3. Memperbaiki keadaan umum.
  4. Lain-lain.


1. Dipasang “Chest tube” dan dihubungkan dengan system WSD, hal ini dapat mempercepat paru mengembang.
2. Apabila dengan pemasangan WSD, darah tetap tidak behenti maka dipertimbangkan untuk thorakotomi.


3. Pemberian oksigen 2 – 4 liter/menit, lamanya disesuaikan dengan perubahan klinis, lebih baik lagi apabila dimonitor dengan analisa gas darah. Usahakan sampai gas darah penderita normal kembali.

Pemberian tranfusi darah : dilihat dari adanya penurunan Hb. Sebagai patokan dapat dipakai perhitungan sebagai berikut, setiap 250 cc darah (dari penderita dengan Hb 15 g %) dapat menaikkan ¾ g % Hb. Diberikan dengan tetesan normal kira-kira 20 –30 tetes / menit dan dijaga jangan sampai terjadi gangguan pada fungsi jantung atau menimbulkan gangguan pada jantung.

4. Pemberian antibiotika, dilakukan apabila ada infeksi sekunder.

- Antibiotika yang digunakan disesuaikan dengan tes kepekaan dan kultur.
- Apabila belum jelas kuman penyebabnya, sedangkan keadaan penyakit gawat, maka penderita dapat diberi “broad spectrum antibiotic”, misalnya Ampisillin dengan dosis 250 mg 4 x sehari.

5. Juga dipertimbangkan dekortikasi apabila terjadi penebalan pleura.


KOMPLIKASI

1. Kehilangan darah.
2. Kegagalan pernapasan.


Referensi
  1. Baum GL. Textbook of Pulmonary Disease, Little Brown and Co Boston, 1974, p. 973 – 974.
  2. Graham K. Crompton. Diagnosis and Management of Respiratory Disease. Blackwell Scientific publications 1980, p. 147.
  3. Ingram RH. Disease of The Pleura, Mediastinum and Diaphragma, In : Harrison’s, Principles of Internal Medicine, 10th edition,. Mc Graw Hill Book Co., Japan, p. 1582.
  4. Pare JAP and Fraser RG. Synopsis of Disease of The Chest. W.B Saunders Co., Philadelphia, 1983, p. 6833 – 6834.

0 comments:

Poskan Komentar