Infolinks In Text Ads

Penjelasan Tentang Arterial ulcer Atau ischemic ulcer

A. ETIOLOGI

Arterial ulcer biasa juga disebut ischemic ulcer merupakan luka pada kaki yang disebabkan oleh tidak adekuatnya perfusi pada kaki. Hal ini disebabkan oleh sumbatan partial atau total artery yang menyuplai darah ke extrimitas inferior. Penyakit paling umum yaitu arteriosclerosis dimana dinding arteri menjadi menebal, biasa juga disertai dengan atherosclerosis dimana terjadi pembentukan plak pada lapisan terdalam dari pembuluh darah.

B. PENGKAJIAN

Pada pengkajian mungkin ditemukan nyeri saat berjalan dan hilang saat istirahat, hal ini dikenal sebagai intermittent claudication. Nyeri juga bisa terjadi di malam hari ketika pasien berbaring dan hilang bila kaki ditinggikan. Riwayat kesehatan masa lalu perlu dikaji adanya peripheral vascular disease atau arterial surgery. Riwayat merokok juga perlu untuk diperhatikan.

Kaki mungkin teraba dingin saat palpasi, dan nampak mengkilap serta bulu-bulu kaki mungkin berkurang sampai menghilang. Kaki nampak pucat bila ditinggikan dan kemerahan/kebiruan bila direndahkan. Nadi dorsal pedis mungkin menurun bahkan menghilang. Apabila terjadi ischemic maka pemeriksaan ABPI dibawah 0.9. Bila pasien telah terkena intermittent claudication maka nilai ABPI antara 0.5-0.9. Adanya nyeri saat istirahat dengan nilai ABPI dibawah 0.5 menunjukkan adanya critical ischemia sehingga pasien perlu dirujuk ke bedah vascular.

C. PERENCANAAN

1. Manajemen Pencegahan.

a. Hindari paparan suhu panas atau dingin atau perubahan temperature secara tiba-tiba.2

b. Hindari penggunaan celana yang ketat dan sepatu yang sempit.2

c. Perawatan kaki secara teratur.

d. Duduk dengan kaki dalam posisi netral atau menggantung (dependent).

e. Tinggikan sisi kepala tempat tidur.

f. Gunakan celana yang bisa menyerap keringat.

2. Manajenen Debridement.

a. Surgical atau Conservative sharp wound debridement (dengan mengunakan gunting dan scalpel).

b. Autolytic debridement; dengan menggunakan: Hydrogels, Hydrocolloid paste/powder, atau Hydrocolloid dressing.

c. Mechanical Debridement, dengan menggunakan kompressi normal saline.

d. Enzymatic Debridement, dengan menggunakan varidase atau elase.

3. Manajemen Infeksi.

a. Perawatan kaki secara umum.

b. Cuci kaki dengan air hangat atau bersihkan dengan normal saline.

c. Penggunaan antibiotic sistemik apabila ata tanda-tanda klinis infeksi.

d. Tulle gras (bila dengan antiseptic gunakan dalam waktu yang tidak lama).

e. Calcium alginate.

f. Kompressi dengan normal saline (untuk intensive cleaning).

g. Foam dressing.

4. Manajemen Dermatitis/Eczema

a. Perawatan kaki secara umum.

b. Cuci dengan air hangat atau bilas dengan normal saline.

c. Test lergi.

d. Hindari pengunaan allergen.

e. Kortikosteroid topical.

f. Pemilihan balutan yang tepat sesuai dengan jenis luka (hindarkan balutan sintetik).

g. Balutan yang dianjurkan; Cotton tulle gras, hydrogel, hydrocolloid, calcium alginate, atau foam dressing.

Luka arteri termasuk luka yang sulit sembuh sehingga intervensi pembedahan artery menjadi satu-satunya pilihan untuk memperbaiki aliran darah. Percutaneous transluminal angioplasty sangat efektif untuk mendukung penyembuhan arterial ulcer (Ray, et al 1995) dimana standar prosedur pembedahan adalah bypass graft.

Bila pasien mengalami nyeri hebat, pain control merupakan esensi utama dalam manajemen arterial ulcer. Pasien sebaiknya dianjurkan berhenti merokok. Latihan ringan pada tungkai bisa mendukung pembentukan collateral pembuluh darah sehingga bisa meningkatkan perfusi jaringan. Tungkai juga dipertahankan tetap hangat sebab dingin dapat menstimulasi nyeri.

Tujuan utama manajemen arterial ulcer adalah melepaskan jaringan nekrotik dan mencegah infeksi (dealey). Pemilihan balutan yang tepat bergantung pada penampakan luka, jumlah eksudat dan posisi ulcer.

Yang perlu diperhatikan bahwa apapun balutan yang digunakan harus dipastikan bahwa balutan tersebut tidak mengganggu aliran darah, oleh karena itu penggunaan terapi kompressi (compression bandage) sebaiknya tidak digunakan.

D. PERAWATAN KAKI

Seseorang yang memiliki aliran darah yang buruk ke kaki, hendaknya melakukan beberapa tindakan pencegahan berikut:

1. Setiap hari memeriksa kaki apakah terdapat retakan, luka terbuka, kutil atau kapalan.
2. Setiap hari mencuci kaki dengan air hangat dan sabun yang ringan, lalu mengeringkannya.
3. Untuk kulit yang kering, gunakan pelumas (misalnya lanolin).
4. Untuk menjaga agar kaki tetap kering, gunakan bedak bubuk yang tidak mengandung obat.
5. Guntinglah selalu kuku-kuku ibu jari, tetapi jangan terlalu pendek.
6. Obati kutil dan kapalan.
7. Jangan menggunakan bahan kimia yang lengket maupun yang terlalu keras.
8. Gantilah kaos kaki atau stoking setiap hari.
9. Jangan menggunakan stoking yang ujungnya terlalu ketat.
10. Untuk menjaga agar kaki tetap hangat, gunakanlah kaos kaki wol yang longgar.
11. Jangan gunakan botol air panas atau bantalan pemanas.
12. Gunakan sepatu yang nyaman dan memiliki ruang yang cukup untuk jari-jari kaki.
13. Jika kaki memiliki kelainan bentuk, gunakanlah sepatu khusus.
14. Jangan menggunakan sepatu terbuka atau berjalan tanpa alas kaki. http://www.sidenreng.com/2010/01/penyakit-arteri-tungkai-dan-lengan

E. EVALUASI

Proses penyembuhan luka sebaiknya dievaluasi secara continue. Dalam memantau proses penyembuhan luka perlu diperhatikan adanya tanda-tanda infeksi. Nyeri sebagai masalah utama dalam arterial ulcer juga perlu diobservasi melalui penggunaan pain ruler atau wong baker scale.

F. PROGNOSIS

Arterial ulcer termasuk jenis luka kronis yang sulit sembuh (hard to heal wound), sebab penyembuhan luka bergantung pada suplay oksigen ke jaringan. Pada arterial ulcer apabila proses penymbuhan luka tidak mengalami kemajuan maka perlu dilakukan pengkajian ulang dan investigasi mendalam untuk mengidentifikasi penyebab dan memastikan patofisiologi luka. Beberapa kondisi yang mungkin mempersulit yaitu:

1. Infeksi.

2. Benda asing.

3. Diabetes mellitus.

4. Blood dyscrasias.

5. Deep venous thrombosis.

6. Progressive arterial disease.

7. Lymphoedema.

8. Osteoarthritis.

9. Rheumatoid arthritis.

10. Gout.

11. Oateomyelitis.

12. Atrophie blanche.

13. Vasculitis.

14. Pyoderma gangrenosum.

15. Neoplasma, benigna atau maligna.

16. Fictitious wounding.

0 comments:

Poskan Komentar