Infolinks In Text Ads

ASUHAN KEPERAWATAN PENATALAKSANAAN TETANUS

Penyakit tetanus adalah penyakit yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani ditandai dengan kejang otot secara paroximal dan diikuti kaku otot seluruh badan .

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh : Clostridium tetani , yang memiliki sifat :

    Bentuk batang
    Badan ramping dengan ukuran 2 – 5 x 0,4 milimikron
    Berspora
    Dengan pewarnaan bersifat gram positif
    Anaerob


Epidemiologi
Kuman ini tersebar di :

    Tanah terutama tanah garapan
    Dijumpai pada tinja manusia dan hewan


Faktor pencetus :
Perawatan luka yang tidak baik merupakan faktor pencetus terserin
Patogenesis
Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan keadaan anaerob yang disukai untuk tumbuhnya kuman tetanus antara lain ;

    Luka tusuk yang dalam misalnya kena paku atau duri
    Luka karena kecelakaan baik lalu lintas maupun kacelakaan kerja
    Luka ringan seperti luka gores dan excoriasi


Hipotesa bekerjanya toksin :

    Toksin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dan melalui sumbu silindris menuju cornu anterior CNS
    Toksin diabsorbsi oleh sistem limfe masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam CNS


Gejala klinis :

    Masa inkubasi tetanus 2 – 21 hari
    Timbulnya gejala klinis biasanya mendadak yang bisa berupa :
    Spastisitas otot terutama pada leher dan rahang
    Kesukaran membuka mulut
    Kaku kuduk
    Kejang sepanjang ruas tulang belakang
    Bila kejang tonik sedang berlangsung maka pada daerah muka nampak berwajah seperti kera ( Rhesus sardonicus )
    Serangan timbul paroximal dapat dicetuskan oleh rangsangan suara, cahaya, maupun sentuhan tetapi dapat timbul spontan
    Karena kontraksi otot yang kuat dapat terjadi aspirasi dan cyanosis, retensio urine dan bahkan fractura columna vertebrae
    Pada anak terkadang djumpai demam ringan


Pemeriksaan

    Pada anamnesa biasanya didapatkan riwayat luka
    Pada pemeriksaan fisik didapatkan kekakuan otot menyeluruh dan kejang
    Laboratorium biasanya dijumpai leukositosis


Prosedur penatalaksanaan tetanus

SARANA

    Oksigen
    Suction aparatus


PENATALAKSANAAN

    Penderita diterima di penerimaan awal
    Penderita dibaringkan di triage untuk diseleksi dan pemeriksaan awal
    Penderita dibawa ke ruang kartu merah untuk pemeriksaan lebih lanjut
    Penderita dilakukan pemeriksaan laboratorium
    Berikan oksigen
    Dilakukam penghisapan lendir dengan suction
    Pasang infus RL
    Penderita di MRS kan

Pada dasarnya, penatalaksaannya tetanus bertujuan untuk :
1. Eliminasi Kuman

    Debridement

    Untuk meghilangkan suasana anaerob, dengan cara membuang jaringan yang rusak, membuang benda asing, merawat luka / infeksi umbilicus, membersihkan liang telinga / mengobati otitis media

    Antibiotika

    Penicilline procaine 50.000 – 100.000 IU / kg / hari IM, 1 – 2 kali sehari minimal selama 10 hari.
    Antibiotika lain ditambahkan sesuai dengan penyulit yang timbul.

2. Netralisasi Toksin :

    Toksin yang dapat dinetralisir adalah toksin yang belum melekat di jaringan.
    Dapat diberi TIGH 500 KI (neonatus) – 6000 KI i.m atau ATS 5000 KI – 100.000 KI.

3. Perawatan Suportif :
Perawatan penderita tetanus harus intensif dan rasional.
a. Nutrisi dan Cairan :

    Pemberian cairan IV disesuaikan jumlah dan jenisnya dengan keadaan penderita, seperti sering kejang, hiperpireksia dan sebagainya.
    Beri nutrisi tinggi kalori, bila perlu dengan nutrisi parenteral.
    Bila sonde nasogastric telah dapat dipasang (tanpa memperberat kejang), pemberian makanan per oral hendaknya segera dilaksanakan.

b. Menjaga agar pernapasan tetap efisien :

    Pembersihan saluran napas dari lendir.
    Pemberian zat asam tambahan.
    Bila perlu, lakukan tracheostomi (tetanus berat).

c. kekakuan dan mengatasi kejang :

    Antikonvulsan diberikan secara titrasi, disesuaikan dengan kebutuhan dan respons klinis.
    Pada penderita yang cepat memburuk (serangan kejang makin sering dan makin lama), pemberian antikonvulsan dirubah seperti pada awal terapi, yaitu dimulai lagi dengan pemberian bolus, dilanjutkan dengan dosis rumatan yang lebih tinggi.
    Bila dosis maksimal telah tercapai namun kejang belum teratasi, harus dilakukan pelumpuhan otot secara total dan dibantu dengan pernapasan makanik (ventilator).

0 comments:

Poskan Komentar